Tangkal Radikalisme! Dengan Mewujudkan Teknologi Berlandaskan Pancasila

Diberdayakan oleh Blogger.

(OPINI) TEKNOLOGI MENGANCAM PANCASILAKU

TEKNOLOGI MENGANCAM PANCASILAKU Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang dirumuskan pada tanggal 29 Mei 1945 dan disahkan pada tan...

Pancasila

Mari Amalkan,
Jangan Hanya
Dijadikan Pajangan!

RUBRIK

TEKNOLOGI MENGANCAM PANCASILAKU

Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang dirumuskan pada tanggal 29 Mei 1945 dan disahkan pada tanggal 1 Juni 1945. Oleh karena itulah setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila, dan sebagai warga negara yang menjunjung tinggi dasar negara Indonesia sekaligus ideologi bangsa melaksanakan upacara hari peringatan lahirnya Pancasila. Tetapi kenapa di abad 21 ini masih banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran yang berkaitan dengan Pancasila? Sudahkah makna Pancasila merasuk ke dalam jiwa? Pancasila terdiri dari lima sila, setiap sila mengandung makna yang menggambarkan ciri khas bangsa Indonesia. 

Ciri khas negara Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lain. Kita warga negara Indonesia yang selalu menjunjung tinggi keadilan, gotong royong, persatuan, dan kepercayaan terhadap Tuhan. Apakah semua sudah sejalan, serasi dan seirama? Bangsa sedang terancam dengan keberadaan sesuatu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan “HOAX”. Tanpa disadari “HOAX” dapat mengancam persatuan bangsa kita. Pancasila yang sudah ada semenjak awal Indonesia merdeka dan saat ini terancam keberadaannya dengan “HOAX”.  “HOAX” bagaikan virus kepercayaan yang menyerang  rasa Pancasila di setiap jaringan pikiran manusia. 

Semua seakan telah terhipnotis dengan keberadaanya, terutama keberadaannya di media sosial. Media sosial seperti facebook, instagram, twitter dan media sosial lainnya merupakan sebuah teknologi pintar yang diciptakan untuk membantu dan mempermudah manusia dalam mengerjakan sesuatu, tetapi hal ini juga digunakan sebagai teknologi yang buruk yang digunakan untuk memecah belah bangsa. 

Namun, akan lebih bagus apabila media sosial ini digunakan sebagai teknologi yang dapat menyatukan bangsa, meningkatkan rasa kekeluargaan Pancasila dan meningkatkan rasa cinta tanah air yang telah diperjuangkan oleh pejuang bangsa Indonesia. Dengan segala kecanggihan teknologi saat ini, seakan semua lupa dengan tujuan mengapa teknologi tersebut dibuat dan melupakan apa itu “ITE”. ITE merupakan undang-undang yang mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik dan teknologi informasi, semua sudah diatur didalamnya bagaimana kita menggunakan teknologi yang tepat dan pintar. 

Jadi marilah kita gunakan teknologi sepintar mungkin dan gunakan sebagai penyebar informasi atau ajaran yang membawa dampak positif untuk bangsa dengan mengindahkan segala sejarah, arti ataupun makna yang terkandung dalam Pancasila sebagi penyatu bangsa. Sebagai warga negara yang baik lakukan hal yang positif yang bermakna untuk bangsa walaupun dan taati semua aturan dan undang-undang yang telah diatur doleh negara ini.  


PTI GO ORMAWA...!!!
Kalian pasti kenal dengan ketua KMHD masabakti 2017/2018 kan?? Beliau tidak lain adalah salah satu mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Informatika yang pada saat ini menduduki Semester 6. Yaa Beliau tidak lain dikenal dengan nama I Gede Arya Sukarya yang biasa dipanggil  Arya’k. Arya’k  yang lahir di Banjar Dinas Abang Kaler, Karangasem merupakan anak kedua dari pasangan I Made Suandi dan Ni Luh Reti. Latar Belakang pendidikan Beliau yaitu SD Negeri 1 Abang, SMP Negeri 1 Abang, dan SMK Negeri 1 Abang. Arya’k bercita-cita  ingin menjadi guru. Beliau memiliki hobi bermain sepak bola. Karena Beliau menempuh pendidikan di Universitas Pendidikan Ganesha tidak mungkin kan dari Karangasem ke Singaraja setiap hari?? Jadi Beliau Ngekost di Singaraja. Tepatnya dengan alamat Jalan Sahadewa No.15H. Arya’k sangat senang mengikuti organisasi. Apa alsasan nya?? Alasan Beliau mengikuti suatu Organisasi karena ingin menambah pengalaman, bisa bicara di depan umum, mengetahui banyak karakter seseorang, dan mempunyai sahabat.

Sedangkan menurut Beliau keterkaitan antara Organisasi dengan Semangat Pancasila adalah karena dengan semangat untuk Ngayah dan mengimplementasikan ajaran Dharma dalam kehidupan sehari-hari dalam berorganisasi tentunya ada banyak hal perbedaan yang dijumpai, misalnya: berbeda dalam karakter setiap individu, perbedaan pola pikir, perbedaan jurusan, perbedaan adat istiadat yang berasal dari penjuru Bali yang ikut bergabung dalam organisasi yang sama. Menurut Beliau juga bahwa melalui organisasi kita bisa merangkul semua anggota dengan musyawarah agar nantinya mencapai hasil yang mufakat.


Kesan Beliau dalam Jabatan yang diampu yaitu sebagai Ketua KMHD (Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma) Yovana Brahma Vidya Undiksha Masa Bakti 2017/2018 adalah adalah “Ucapkan Syukur dan Saling Membantu ”.
PANCASILA DENGAN JIWA TEKNOLOGI
            Indonesia dewasa ini dihadapkan dengan persoalan dan ancaman radikalisme, terorisme dan separatisme yang kesemuanya bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Radikalisme merupakan ancaman terhadap ketahanan ideologi. Menurut pendapat dari koordinator tempekan FTK di KMHD, I Gusti Putu Yudha Tresnawan “kasus radikalisme Itu terjadi bukan karena semangat pancasila mereka luntur akan tetapi karena mereka mudah dimakan akan hasutan yang membuat segelintir orang ini menjadi terprovokasi yang menginginkan perubahan dengan cara kekerasan atau sikap ekstrem itu sendiri”. Sesuai dengan pernyataan darinya, banyak kekerasan yang terjadi di Indonesia belakangan ini yang mengatasnamakan pancasila. “Saya pribadi tidak setuju terjadinya paham radikalisme, yang marak terjadi belakangan ini di Indonesia, karena paham radikalisme itu sendiri merupakan aliran yang menginginkan perubahan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau sikap ekstrem untuk merubah sesuatu, beranjak dari hal itu juga, paham radikalisme ini sangat saya tentang di negara yang majemuk ini, jangan sampai kerena segelintir orang kita terpecah akan perbedaan yang kita miliki sampai saat ini”, imbuhnya menanggapi persoalan radikalisme. Beliau juga menyatakan bahwa yang menjadi panutan untuk semangat Pancasila merangkul radikalisme adalah sang proklamator kita yaitu Ir. Soekarno bagaimana dengan semangatnya untuk menyatukan Indonesia akan perbedaan membuat suatu ideologi yang kita kenal sampai saat ini dengan nama PANCASILA.
            Pancasila adalah ideologi yang sangat baik untuk diterapkan di negara Indonesia yang terdiri dari berbagai macam agama, suku, ras dan bahasa. Sehingga jika ideologi Pancasila diganti oleh ideologi yang berlatar belakang agama, akan terjadi ketidaknyamanan bagi rakyat yang memeluk agama di luar agama yang dijadikan ideologi negara tersebut. “Dalam pancasila terdapat semua untuk menyatukan Indonesia tidak ada yang diagungkan, mengambil tindakan dengan musyawarah untuk mecapai mufakat serta nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya membuat Pancasila itu seakan sangat sempurna, semoga beranjak dari hal itu semua bisa memahami akan perbedaan yang kita miliki dan tidak ada lagi nantinya anak-anak radikalisme lagi.” Tutur yudha.
            Semangat pancasila seharusnya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari semisal dalam hal sembahyang, sikap adil atar sesama, rasa kekeluargaan dan masih banyak lagi lainnya. Ini kita harus terapkan karena dalam pancasila, semua itu sudah ada dengan keanekaragaman yang kita miliki dari suku, agama, ras dan antar golongan di Negeri nan kaya ini, karena para pahlawan kita tidak dengan mudah bagaimana merumuskan ideologi yang bisa mempersatukan negara dengan perbedaan menjadi satu kesatuan yang utuh yaitu Indonesia, kita sebagai generasi muda bagaimana kita bisa mempertahankan apa yang sudah dirumuskan oleh pahlawan kita dengan susah payahnya untuk Negeri tercinta ini.
            Salah satu contoh pengimplementasian Pancasila yaitu dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam masyarakat tentunya ada suatu perbedaan bagaimana kita bisa menghargai perbedaan itu menjadikan suatu kekuatan bukan kelemahan, menghargai perbedaan pendapat dan menyelesaikan dalam suatu musyawarah agar mencapai suatu mufakat, selalu bersikap adil antar sesama, menghargai perbedaan agama dengan selalu saling tolong menolong dan masih banyak lagi hal yang bisa kita lakukan dalam pengimplementasian pancasila ini, yang intinya untuk menyatukan yang berbeda-beda bukan persatuan yang dibeda-bedakan.
            “Sebagai  mahasiswa yang mempunyai jiwa teknologi menyatukan dengan semangat Pancasila untuk menangkal radikalisme tentunya kita harus memiliki jiwa teknologi dan mampu memanfaatkan teknologi itu sendiri untuk hal yang positif, menyebarkan informasi untuk menyatukan semangat pancasila itu, bukan untuk menyebar hoax atau malah mengkotak-kotakan negara yang sudah bulat ini, dan tentunya dari pemanfaatkan teknologi ini kita bisa nantinya menangkal bahkan menghilangkan paham radikalisme yang membuat kita seakan terpecah belah dengan suadara kita sendiri. Semoga semua bisa memahami Pancasila itu sendiri dan tentunya bukan hanya saya,kamu,dia, mereka tetapi kita, iya kita. Kita Pancasila, Kita Indonesia”tegasnya.




KENALI BACAANMU!

Pada situasi saat ini, media sosial memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, media sosial sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok kehidupan manusia. Hampir semua orang memiliki media sosial. Media sosial dapat dan sering digunakan untuk mengemukakan pendapat dan hal-hal lainnya, namun, apakah kita sudah menggunakannya untuk menyuarakan pendapat kita dengan baik?

Pada zaman sekarang yang sudah dipenuhi dengan kemajuan teknologi, hidup kita tidak dapat dilepaskan dari gadget dan media sosial. Seakan-akan kita tidak dapat bertahan hidup tanpa menyentuh gadget. Kemajuan teknologi informasi, kebebasan pers, dan kolom komentar membuat orang-orang marak menyuarakan pendapatnya melalui internet, baik dalam situs-situs maupun dalam media sosial. Kita sering melihat suatu postingan di Instagram yang memiliki ribuan komentar, atau mungkin komentar-komentar netizen terhadap suatu topic tertentu. Sadarkah kita bahwa komentar-komentar kita bisa saja dibaca oleh siapa saja dan dapat mempengaruhi orang lain?

Belakangan ini pancasila kerap diperbincangkan. Bukan tanpa sebab, banyaknya kejadian yang akhirnya dikaitkan dengan dasar ideologi negara ini. Terutama sila ke-1 “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Diperparah dengan maraknya berita HOAX yang tersebar luas di dunia maya.
Berita hoax kembali menjadi sorotan terutama setelah Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan keluh kesahnya di twitter pribadinya, pada Jumat (20/1). "Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar 'hoax' berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang? *SBY*," tulis SBY di twitternya.

Kicauan itu menjadi viral di media sosial, disukai dan dikomentari oleh ribuan orang. Wakil Presiden Jusuf Kalla sebelumnya juga ikut mengomentari kicauan SBY. JK menilai cuitan SBY itu sebagai pendapat pribadi yang harus dihormati. "Twitter itu sifatnya pendapat pribadi. Ya silakan saja. Bukan untuk sependapat atau tidak," kata Wapres JK di Makassar, Sulawesi Selatan.

Tidak hanya Twitter tetapi semua media sosial juga termasuk suatu alat komunikasi yang sifatnya pribadi. Apapun yang ingin kita tulis, kita memiliki hak untuk menulis dan menyebarkan nya. Dan seperti kata Bapak JK bahwa itu bukan untuk orang yang sependapat atau tidak. Karena Sang penulis hanya ingin mengungkapkan hal berdasarkan pendapat pribadi. Jadi hal itu sah-sah saja.

Presiden Jokowi juga menyatakan bahwa pemerintah serius dalam memerangi berita hoax di media sosial. Belia berpendapat bahwa "Saya kira kita berhadapan dengan masalah keterbukaan ini ya seperti itu. Ya kita hadapi karena semua negara juga menghadapi. Enggak perlu banyak keluhan ya," ujar Jokowi saat diitemui usai ikuti kejuaraan panahan Bogor Terbuka 2017 di Lapangan Pusat Pendidikan Zeni TNI Angkatan Darat di Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/1). Dalam pernyataan tersebut orang nomor satu di Indonesia itu menghimbau kita untuk tidak terlalu mengeluh.

Cyber-bullying bukan hal yang tidak biasa lagi pada zaman ini. Cyber-bullying sendiri adalah tindakan bully yang terjadi di dunia maya. Memberikan komentar-komentar yang kurang atau bahkan tidak pantas, meninggalkan kata-kata penuh hujatan di kolom komentar, dan mengata-ngatai orang di internet sekarang merupakan hal yang biasa dengan mengatas-namakan kebebasan berpendapat. Tidak sedikit pula orang-orang yang mengalami keterpurukan, depresi, maupun akhirnya bunuh diri hanya karena dunia maya. Kebebasan berpendapat sendiri memang ada hukumnya

Pasal 28 E ayat 3 UUD 1945 menyatakan bahwa setiap orang memiliki kebebesan untuk berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat. Adalah sebuah pelanggaran hukum jika kita dilarang menyatakan pendapat kita. Sebagai manusia yang memiliki hati nurani, kita sebaiknya dapat memberikan pendapat, kritik, dan saran yang membangun, bukannya dengan menyampaikan komentar-komentar atau pendapat yang penuh kebencian dan kata-kata tidak pantas.

Apalagi saat ini sudah didukung dengan adanya Undang-undan No.11 tahun 2008 mengenai Internet dan Transaksi Elektronik, dimana mengatur banyak hal tentang etika dan tata cara menggunakan Internet dengan baik, seperti misalnya tentang postingan yang mengandung unsure pornografi, SARA, berita hoax, plagiarisme, stalking, dan lain-lain.

Namun, akhirnya semua kembali lagi ke masing-masing pribadi yang memiliki akal budi dan pemikiran masing-masing. Apakah kita akan tetap meninggalkan komentar-komentar yang hanya berisi hujatan dan tidak akan membangun orang lain, ataukah kita akan mulai mencoba untuk berusaha memberikan kritikan dan saran dengan cara yang lebih manusiawi dan lebih sopan? Mari kita berharap agar dapat membentuk kebebasan berpendapat yang lebih membangun untuk masa depan generasi kita.







Judul
:
Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Penulis
:
Cindy Adams
Alih Bahasa
:
Syamsul Hadi
Penerbit
:
Media Pressindo
Tahun Terbit
:
2007
Tebal halaman
:
430 halaman

Kisah-kisah epos perjuangan beliau tentang keluar masuk penjara politik, perlawanan-perlawanan terhadap kolonialisasi, dan memimpin sebuah negeri dengan beragam etnis dan agama dengan kesetaraan sebagai ide sosialnya, menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh di Indonesia, bahkan di mancanegara. Tapi sosoknya yang kharismatik dan menawan juga merupakan salah satu sisi kontroversial dari pria yang memiliki darah Bali ini. Kecintaanya pada seni, keindahan, dan wanita merupakan salah satu dari banyak hal yang menjadi kritik bagi lawan-lawan politiknya. Selain itu, banyak juga upaya-upaya pengecut untuk memelintirkan kisah hidup beliau.
Aku ini bukan apa-apa tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat.

Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang disusun oleh Cindy Adams dengan judul asli Soekarno: an Autobiography as Told to Cindy Adams diterjemahkan secara ketat (terhadap teks asli) ke dalam Bahasa Indonesia oleh Syamsul Hadi untuk edisi yang terbaru. Terlepas dari proses interpretasi, edisi terbaru buku ini menggambarkan dengan baik alur bercerita seorang Cindy Adams. Buku ini pertama kali diterjemahkan pada tahun 1997 dengan judul yang sama. Namun, seperti yang diklaim oleh Yayasan Bung Karno, buku terjemahan edisi pertama (non-revisi) memiliki beberapa kesalahan penerjemahan yang menyebabkan kesalahan yang substansial pada konten buku tersebut sendiri. 

Sehingga buku ini mengalami beberapa kali revisi sebelum diterbitkan kembali. Sebenarnya hal ini sangat menarik karena dari proses produksi buku ini kita dapat melihat sebuah contoh kecil dari sejarah yang tak kunjung selesai, tak pernah mapan. Dan karena itu pula buku ini, secara pribadi, saya nilai layak dijadikan sebuah referensi untuk kalian yang tertarik dengan sejarah Bapak Bangsa ini. 

Cindy Adams menyajikan kisah luar biasa dari seorang Soekarno menggunakan bahasa yang ringan, alur berpikir yang sistematis, dan sudut pandang orang pertama, sehingga menggiring pembaca untuk masuk ke dalam kisah kehidupan Bung Karno dengan lebih intim. Buku ini merangkum perjalanan hidup Bung Karno: dari masa kecilnya sebagai Kusno, kehidupannya remajanya menuntut ilmu di Technisce Hoogeschool Bandung, pertemuannya dengan Inggit Ganarsih, pidato-pidato politiknya, pandangan Marhaenismenya, serta perjuangannya tanpa henti untuk kemerdekaan bangsanya, Indonesia. Dengan membaca buku ini kira berharap bahwa kita dapat memahami arti berbangsa, bernegara dalam sudut pandang yang luas dan positif seorang proklamator.



Sebuah Harap Kepada Tong Kosong

Kami dari suatu Negeri
Hitam-Putih
Kaya-Miskin
Teman-Orang tak dikenal
Itu semua tak berhubungan

Ramai, Sangat Ramai
Berisik, Sangat Berisik
Ngomong, Semua Ngomong
Komentar, Semua Komentar
Tidakkah kita bisa mengerti???
Untuk menerima satu sama lain.

Sini bilang benar
Sana bilang salah
Yang mana ditiru??
Tidak ada.
Semua bubar.

Ku tunggu-Semua menunggu
Berharap dalam harap
Aspirasi untuk mendapat sokongan
Tapi apa daya
Cuma dalang yang tau
Kemana para pelakon itu

Dengan banyaknya kekacauan
Dengan banyaknya berita negative
Dimana rakyat sudah terbiasa
Hidup dalam kemiskinan
Tapi tidak kami pertanyakan
Kami akan pertaruhkan hidup kami
Agar Bendera ini terus terbang tinggi.

Teknologi Positif atau Negatif???




Dari tahun ke tahun untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila sudah biasa diadakan Buleleng Education Expo. Kamis, 1 Juni 2017 setelah melakukan Upacara Bendera, beberapa perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Informatika atau biasa disingkat dengan HMJ PTI melakukan penjagaan Stand. Apa saja yang ada di Stand? Sesuai dengan nama jurusan nya yaitu Pendidikan Teknik Informatika, sesuatu hal yang diperlihatkan atau ditunjukkan adalah tentang teknologi, seperti halnya Robot, Augmented Reality-book, dan masih banyak lagi yang berkaitan dengan Teknologi. Kesemua hal tersebut merupakan hasil karya dari kakak tingkat PTI yang dituangkan dalam Skripsinya. Berbagai jenis hal-hal yang menarik bisa dibuatkan atau dikembangkan.

Dalam beberapa waktu, tidak sedikit yang berkunjung ke Stand PTI, baik dari kalangan SD, SMP, SMA/SMK, guru-guru, dan pengunjung lain nya. Mereka pasti bertanya-tanya “bagaimana cara membuat?”, “apakah susah atau tidak?”, “butuh waktu berapa lama?”. Tentunya dalam membuat sesuatu untuk menjadi bagus itu tidak mudah dan memakan waktu. Yaa dibilang cukup lama ya, karena memerlukan proses design, editing, dan masih banyak proses lagi yang dikerjakan. Tentunya hasil karya yang dibuat atau dikembangkan ini bersifat positif, kenapa? Karena si pembuatan memiliki tujuan ketika ada seseorang yang melihat hasil karya mereka, seseorang tersebut akan terkesan dan berusaha untuk mempelajari cara membuat nya, bisa diterapkan dengan baik, serta bisa menimbulkan dampak positif kepada orang yang menggunakan.

Berbicara tentang dampak positif, pasti ada dampak negative. Yaa, pastinya teknologi yang dibuat memiliki dampak negative. Salah satu dampak negative nya adalah, tidak semua orang bisa menerapkan dan tidak semua orang bisa mengerti dari hasil teknologi yang ada. Sebenarnya sebagai konsumen teknologi kita harus pintar-pintar memilih dan memilih terutama mengerti akan maksud dari suatu teknologi itu dibuat atau dikembangkan. Contoh lain misalnya, suatu video yang menunjukkan anti radikalisme yang menjadi viral beberapa waktu yang lalu. Seharusnya kita tidak mudah terprovokasi akan adanya hasutan-hasutan dari berbagai pihak. Semestinya kita menggukan hati nurani kita untuk mengetahui makna dari video yang disebar. Yaa memang ada pro dan kontra dari setiap hal. Tetapi setidaknya kita pahami terlebih dahulu apa makna yang ingin disampaikan. Dan apabila merasa video itu tidak baik bisa diberikan komentar positif yang membangun sehingga tidak menimbulkan api yang besar.

Negara ini memang memiliki banyak perbedaan disetiap wilayahnya. Melalui teknologi pada zaman ini seharusnya bisa lebih merekatkan antara individu satu dengan individu yang lainnya yang berbeda tersebut. Misalnya seperti tulisan sebelumnya yaitu ada AR-book (Augmented Reality-book) dimana bisa dibuatkan tentang sejarah-sejarah dari berbagai kerjaan, pengenalan-pengenalan budaya, dan hal-hal lainnya sehingga kita bisa mengenal perbedaan yang ada di Tanah Air kita ini. Karena setiap perbedaan memilki keunikan nya masing-masing.

Dan muncul pertanyaan “Apakah teknologi bisa memecah belah perbedaan?” jawaban nya adalah YA apabila teknologi tidak digunakan dengan sebaik-baiknya, apabila teknologi tidak mampu di pilah antara mana yang baik atau buruk yang mana patuh ditiru dan tidak ditiru yang mana bersifat membangun dan yang menjatuhkan. Dan tentunya setiap hal memiliki sifat positif dan negative. Maka diujilah hati nurani kita dengan adanya nilai Pacasila.(SR) 
LAPUT SASTRA RESENSI TAJUK WAWANCARA PROFIL OPINI
Pemuda

Tim Redaksi


author

Intan

author

Agus Mas

author

Budiarsini

author

Mirabrata

author

Pande

author

Yudhi

author

Yanti

author

Agus Ayun

author

Hadi Indra

author

Tri Prasetyo